My Y!

Tuesday, 5 April 2011

Big Grandfather's Clock

Ooki na noppo no furudokei
Ojiisan no tokei
Hyakunen itsumo ugoite ita gojiman no tokei sa
Ojiisan no umareta asa ni
Katte kita tokei sa
Ima wa mou ugokanai sono tokei

Hyakunen yasumazu ni
Chiku-taku chiku-taku
Ojiisan to issho ni
Chiku taku chiku taku
Ima wa mou ugokanai sono tokei

Nandemo shitteru furudokei
Ojiisan no tokei
Kirei na hanayome yatte kita
Sono hi mo ugoiteta
Ureshii koto mo kanashii koto mo
Mina shitteru tokei sa
Ima wa mou ugokanai sono tokei

Ureshii koto mo kanashii koto mo
Mina shitteru tokei sa
Ima wa mou ugokanai sono tokei
Mayonaka ni beru ga natta
Ojiisan no tokei
Owakare no toki ga kita no o
Mina ni oshieta nosa
Tengoku eno boru ojiisan
Tokei tomo owakare
Ima wa mou ugokanai sono tokei

Hyakunen yasumazu ni
Chiku-taku chiku-taku
Ojiisan to issho ni
Chiku taku chiku taku
Ima wa mou ugokanai sono tokei
Ima wa mou ugokanai sono tokei

P.S: lagu ini dinyanyikan Ken Hirai, berasa lagu lullaby. nice. hear it.

Monday, 4 October 2010

Remind me of.. someone...


Well, I'm not currently involved in any thesis or final paper making, but this kinda situation can happen to anyone... I mean anyone.... like me :>

Thursday, 2 September 2010

Nodame, Beethoven Virus dan Musik Klasik


How many of you likes classical music? Raise your hand please... 

Musik klasik, bagi kita yang awam, adalah musik yang rumit dan bikin ngantuk. Saya kadang-kadang mendengar musik klasik dari kecil. Tapi ga pernah nyadar gimana cara mengapresiasinya, sampai akhirnya ada dorama Jepang berjudul Nodame Cantabile. Udah pernah denger serial ini kan? Ceritanya tentang perjuangan siswa sekolah musik Momogaoka. Ada yang bercita-cita pengen jadi maestro konduktor, ada yang belajar maen piano karena pengen jadi guru TK dan bikin lagu anak2 (walo akhirnya cita-cita ini berubah jadi pengen bermain piano dalam concerto yang dikonduktori oleh sang gebetan, tokoh utama cowok), ada yang pengen bikin dan berkarir di orkestra dan sebagainya. Cerita ini menunjukkan bahwa impian bisa diraih dengan kerja keras. Walo ceritanya komikal banget (karena emang diadaptasi dari komik) tapi banyak pelajaran berharga buat saya. Bahwa menikmati musik klasik ga melulu soal melodi. Ada cerita yang disampaikan dari berbagai musik klasik itu. Termasuk juga cerita bagaimana sebuah musik digubah, bahkan dapat pula menceritakan kondisi dan latar belakang sang musisi pada saat meng-compose musik itu.



Di Jepang ada Nodame, Korea ga mau kalah. Mereka membuat dorama yang berjudul Beethoven Virus. Meski sama-sama mengandung unsur komedi, tapi yang disebut belakangan ini juga melodramatis, khas Korea. Ada maestro kelas dunia yang memiliki sifat asosial, egois dan strict. Ada lulusan sekolah musik yang malah jadi PNS, hingga akhirnya dia mengajukan proposal membuat orkestra di kotanya dan malah menderita tuna rungu. Satu lagi seorang polisi muda berhobi maen trumpet yang sebenarnya adalah jenius musik, tapi dia ngga sadar dengan kelebihannya tersebut. Sejalan dengan episode-nya, cerita menjadi semakin rumit dan ketiga tokoh ini semakin berkembang. Sang Maestro belajar mengenai kehangatan persahabatan, sehingga lebih manusiawi dalam menanggapi emosi (sebelumnya dia menganggap emosi malah merusak interpretasi musiknya menajdi subjektif). Violinis (yang juga PNS itu tadi) akhirnya ==SPOILER== memang mengalami penurunan pendengaran, tapi dia tetep keukeuh ga mau lepas dari musik. Sedangkan Trumpeter (polisi) belajar untuk menjadi konduktor yang lebih baik, tidak hanya mengarahkan orkestra, tapi juga mengatasi masalah-masalahnya. Muatan yang diangkat ga beda-beda jauh dari Nodame, kerjasama dan pantang menyerah. Disini kita juga belajar bahwa dalam bermusik, kita juga harus peka. Bagaimana menghasilkan melodi musik yang mampu membawa pendengar mengalami emosi yang dimaksud, senang, sedih, terharu, bersemangat dan lain sebagainya.


Dari beberapa sumber (blogger yang lebih gila nonton dorama) yang disebut belakangan ini terinspirasi dari yang disebut duluan. Inti ceritanya emang sama, musik klasik. Sepertinya keduanya bertujuan untuk lebih memperkenalkan musik klasik di kalangan awam. The amazing thing of both dorama is all the actors study hard to perform their character, sehingga mereka ngga canggung dan membuat adegan bermain musiknya nampak nyata, ngga dibuat-buat (ini yang kurang dari akting aktor2 kita). Kim Myung-min yang jadi konduktor di Beethoven Virus belajar dari konduktor beneran selama 5 bulan intensif. Hasilnya, adegan conducting-nya bagus, emosinya ngalir begitu aja. Bikin mangap saking terpukaunya... Begitu juga dengan Tamaki Hiroshi yang memiliki peran sama dalam Nodame. Both of them are great, but I was touched when Kang Mae (Kim Myung-min) conduct Beethoven's Symphony no. 9.

Banyak yang menyayangkan ending dari Beethoven Virus, katanya nggantung. Tapi buat saya, it's even better. ==SPOILER LAGI== ga ada yang jadian, tapi menimbulkan pengharapan, "Okay, I have to do better to be appropriate." Bahkan kalopun dibikin season 2, mungkin bakal ngerusak cerita keseluruhannya, lebih baiknya sih dibikin cerita baru lagi dengan tokoh yang lain (emang ada yang mo bikin season 2-nya ya??).

Kalo Nodame, hmm... saya belom menuntaskan ceritanya. Selain serial yang 11 episode itu, ada 2 miniseri spesialnya, plus 2 film yang blom saya tonton. Komiknya juga belom baca, because honestly, the drawing is not so good. Di Nodame, perkembangan karakter tokohnya lebih bagus. Setiap karakter berkembang dengan caranya sendiri, agar dapat mengejar atau menyamai karakter lain yang lebih bagus, tidak ada satu karakter yang lebih baik daripada yang lain (walopun disini Chiaki dianggap paling hebat, tapi untuk kejeniusan main piano sebenernya kalah dari Nodame kan, bukan dari segi teknik lho..)

Kedua dorama itu menghibur, di tengah banyaknya tayangan tipi yang bikin saya ogah nonton. Nilai 4 dari skala 1 mpe 5. Ada yang mo ngerekomendasiin tontonan lain?

Saturday, 14 August 2010

Aaahhh..... bulan puasa....



Ramadhan is in da house yoo.... Hehe... Tahun lalu saat udah mo shalat id, terbersit ketakutan, ga bisa ikut puasa lagi tahun depan, takut  ngga diberi kesempatan untuk belajar sabar menahan nafsu, mendalami agama (ngapain juga yang satu ini nunggu bulan puasa), menikmati suasana puasa yang lain dari biasanya. 

Tahun ini bulan puasa menjadi spesial. Puasa pertama di Jakarta, kota yang untuk sementara waktu ini jadi rumah. Puasa pertama setelah Bapak ngga ada. Ini ngga terlalu ngaruh sebenernya karena tahun-tahun kemaren ngga puasa di rumah. Puasa pas ulang tahun, eh kebalik, ulang tahun jatuh pas di bulan puasa. Apa lagi? Zakat fitrah pertama bayar pake gaji sendiri.

Ada beberapa target dalam puasa kali ini yang pengen saya raih. Yang pasti, pengen lebih baik, lebih bener dalam beribadah. Ngga cuma rutinitas, tapi juga tahu arti ibadah itu sendiri. Membuat ibadah itu jadi kebutuhan, ajang curhat ma Gusti Allah. Ibadah itu penghubung kita dengan Yang Di Atas. Udah tau gitu, saya masih aja angot kalo shalat. Rutin baca bacaannya tapi ngga ngerti arti dan maksudnya. Ngga cuma hubungan vertikal hamba dengan Tuhannya, tapi juga hubungan horisontal, sesama umat. Hidup di Jakarta yang kata orang keras, egois, stress tingkat tinggi itu bener-bener menguji kesabaran. Buat saya ngga di Jakarta, Semarang, Jepara, Malang, Jogja sebenernya sama aja. Ngga ada yang kebih berat. Yang bikin ngga berat adalah orang-orang di sekeliling kita, biasa kita sebut keluarga, sodara, temen, tetangga. Ada temen yang ngerasa iri dengan temen yang lain karena bisa berbuka puasa dan sahur di rumah, dengan keluarga. Buat saya yang udah sering tinggal jauh dari rumah merasa ini bukan beban. Karena seperti kata Ibu, dimanapun kita berada adalah bumi Allah. Tempat kita berpijak sekarang ngga beda jauh dengan keluarga kita yang lain. Secara fisik emang kita ngga bisa ngeliat ato memegang orang tua ato sodara karena dipisahkan oleh jarak. Tapi kita punya ingatan tentang mereka, sehingga selalu dekat di hati. Lagian hari gini, ada teknologi yang namanya telpon, skype, bisa tuker-tukeran foto lewat internet. Banyak jalan lah. Tapi kan bedaa... Yaa dibiasakanlah... Kalo ngga, bisa nangis terus tiap kali kangen. Bukannya ngga boleh nangis, cuma kalo tiap hari nangis kan ngga produktif kita.

Hmm... saya nulis ini pas jam mau buka. Di masjid-masjid dah bergaung pengajian. Saya harus keluar buat beli takjil, makanan buat buka. So, sampai disini dulu ceritanya...


P.S: gambar ngambil dari ruang hati.com

Tuesday, 6 July 2010

Us (OST 500 Days of Summer)

by Regina Spektor

They made a statue of us
And it put it on a mountain top
Now tourists come and stare at us
Blow bubbles with their gum
Take photographs have fun, have fun

They'll name a city after us
And later say it's all our fault
Then they'll give us a talking to
Then they'll give us a talking to
Because they've got years of experience
We're living in a den of thieves
Rummaging for answers in the pages
We're living in a den of thieves
And it's contagious
And it's contagious
And it's contagious
And it's contagious

We wear our scarves just like a noose
But not 'cause we want eternal sleep
And though our parts are slightly used
New ones are slave labor you can keep

We're living in a den of thieves
Rummaging for answers in the pages
We're living in a den of thieves
And it's contagious
And it's contagious
And it's contagious
And it's contagious

They made a statue of us
They made a statue of us
The tourists come and stare at us
The sculptor's marble sends regards
They made a statue of us
They made a statue of us
Our noses have begun to rust
We're living in a den of thieves
Rummaging for answers in the pages
Were living in a den of thieves

And it's contagious
And it's contagious
And it's contagious
And it's contagious
And it's contagious
And it's contagious
And it's contagious
And it's contagious





owner's note : baru bisa nonton filmnya minggu kemaren, and it's awesome. film ini bukan love story, tapi story about love... awesome... 4 out of 5

Wednesday, 30 June 2010

Harry Potter and The Deathly Hallows

Ehem, akhirnya datang jugaa.. Ato lebih tepatnya keluar juga trailer-nya. Rasanya ceritanya bakalan suram, mengikuti bukunya yang juga semakin kelam. Frankly, ending bukunya bagi saya terasa aneh. Semakin aneh karena saya membaca yang English version, dengan pemahaman Bahasa Inggris saya yang ala kadarnya. Hehe... O'rite then, check this out...