
Berhubung kenal makanya ngerekomendasiin. Selamat Kampanye....!
uhm.... it's yummy.... delicioso!






Tanah airku tidak kulupakan
Kan terkenang selama hidupku
Biarpun saya pergi jauh
Tidak kan hilang dari kalbu
Tanah ku yang kucintai
Engkau kuhargai
Walaupun banyak negri kujalani
Yang masyhur permai dikata orang
Tetapi kampung dan rumahku
Di sanalah kurasa senang
Tanahku tak kulupakan
Engkau kubanggakan


diambil dari Republika online edisi selasa, 01 Juli 2008. semoga menjadi perenungan kita semua.
—
Ungkapan dalam judul ini tidak berasal dari saya, tetapi dari Bung Saini KM, sastrawan dan dramawan, asal Sumedang, lahir 18 Juni 1938. Sejak beberapa tahun terakhir kami sama-sama menjadi anggota Akademi Jakarta (AJ). Bung Saini yang santun dan tidak banyak bicara, tetapi sudah terlatih berpikir dalam, karena itu ia gelisah mengamati kultur bangsa yang sedang jatuh.
Dalam sebuah wawancara panjang, Saini sampai kepada kesimpulan bahwa bangsa ini secara kultural sedang kalah. Berbagai indikator telah dibentangkannya dalam wawancara itu. Pada saat berbicara tentang tindak kekerasan yang sedang marak di mana-mana dengan berbagai alasan, Saini meneropong akar pokoknya karena bangsa ini telah kehilangan rujukan budaya. Kulturalisasi (pembudayaan) telah ditelan komersialisasi yang ganas dan dangkal.
Lebih rinci Saini bertutur: “Perilaku keras, beringas, korupsi, keterpurukan ekonomi yang berkelanjutan adalah pertanda kekalahan budaya itu. Karakter bangsa dibentuk oleh kreativitas bangsa itu sendiri. Kreativitas itu akan berkaitan erat dengan kesejahteraan dan kekenyalan bangsa ketika menghadapi persoalan. Bangsa yang kreatiflah yang akan bertahan dan kukuh berdiri di tengah bangsa-bangsa lain.”
Saini berkali-kali mengatakan: “Kita kalah,” sebuah rintihan sastrawan yang mestinya mendapat tanggapan, dari mereka di panggung kekuasaan. Dengan menyadari secara sungguh-sungguh bahwa kita memang lagi berada di bawah, siapa tahu kita bisa bangkit kembali dari segala macam ketidakberesan yang menyesakkan napas. Sebab itu, kata Saini, kita perlu rujukan budaya tradisi yang bernilai dinamis dan positif yang memang terdapat pada semua subkultur bangsa ini.
Saini juga mengkritik perilaku elite yang seenaknya saja menjual aset-aset bangsa tanpa perhitungan jangka panjang. Memang, telah lama terlihat elite bangsa ini gemar ‘menggadaikan’ kedaulatan, demi menutup defisit anggaran. Orang yang kehilangan rujukan budaya akan dengan enteng saja menjual segala yang mungkin dijual, tidak mau berpikir panjang; dengan menempuh cara yang serbapragmatis itu, mereka tidak sadar pada akhirnya kedaulatan bangsa yang akan terjual. Bukankah dengan demikian kita telah mengundang sosok penjajah dalam format lain?
Bung Hatta, dalam usia 26 tahun, dalam pidato pembelaannya di depan mahkamah Belanda di Den Haag, pada 9 Maret 1928, berkata: Selamat tinggal politik memohon dan mengemis! Selamat tinggal politik mohon restu! Selamat tinggal politik menadahkan tangan!
Politik mengemis dan menadahkan tangan kepada asing adalah bagian dari kultur budak. Bukankah kutipan Bung Hatta itu terlahir dari pemimpin yang punya harga diri, sekalipun pada waktu itu Indonesia masih terjajah? Dengan kebiasaan kita menjual aset strategis kepada pihak asing, bukankah itu berarti kita telah kehilangan ketegasan sikap membela kedaulatan bangsa dan negara? Terakhir bergulir pula berita Krakatau Steel (KS), juga mau dijual ke asing. Tetapi, karena ada perlawanan dari dalam dan bantuan pers dan tokoh-tokoh masyarakat, kabarnya KS tidak jadi dijual. Coba banyangkan KS sebagai industri baja strategis bagi pertahanan negara, lalu dikuasai asing, bukankah dengan cara latah itu kita telah menggadaikan kedaulatan kita? Mengapa kita dengan mudah saja ‘menadahkan tangan’ kepada asing agar mau membeli aset yang sebenarnya mampu kita kelola sendiri?
Dalam situasi bangsa yang sedang kehilangan rujukan budaya ini, saya mengimbau semua komponen bangsa yang masih siuman untuk berteriak lebih keras dan lantang lagi tetapi santun untuk mengingatkan pihak pemerintah dan DPR agar berhati-hati membuat keputusan penting. Salah-salah tingkah, akibat buruknya akan ditanggung oleh anak cucu kita di kemudian hari. Jangan-jangan yang tersisa buat mereka nanti hanyalah ampas Republik yang telah sangat merana dan telah kehilangan segala-galanya. Kritik seorang seniman santun Saini patut benar direnungkan.
(Ahmad Syafii Maarif )Hari Lingkungan Hidup Sedunia diperingati setiap tanggal 5 Juni, penetapannya dimulai sejak tahun 1972 melalui Sidang Umum PBB (Perserikatan Bangsa-Bangsa) dan menetapkan tanggal tersebut sebagai hari lingkungan hidup sedunia. Pada tahun yang sama dibentuk UNEP (United Nations Environment Program) yang bertanggung jawab terhadap peringatan World Environment Day setiap tahunnya di berbagai negara.
Maksud dari adanya peringatan hari lingkungan hidup sedunia adalah untuk meningkatkan kesadaran bagi siapa saja dalam menjaga lingkungan dan meningkatkan perhatian pemerintah diberbagai negara dalam mengatasi masalah lingkungan.
Aksi nyata pemerintah dan masyarakat dalam menjaga lingkungan.adalah hal yang sangat penting, mengingat bumi yang kita tempati telah menjadi renta sebelum waktunya akibat ulah manusia. Penebangan liar menyebabkan hutan gundul, longsor dan banjir, sampah yang tidak bisa di daur ulang, eksploitasi terhadap isi perut bumi yang berlebihan, pencemaran udara yang mengakibatkan global warming serta pencemaran lainnya, semuanya itu adalah sumbangan manusia bagi kehancuran bumi dan manusia itu sendiri.
Akibat masalah lingkungan yang tidak terjaga, telah kita rasakan hari ini, udara menjadi lebih panas, cuaca yang sulit diprediksi berakibat buruk pada pertanian (gagal panen), dimasa yang akan datang tidak menutup kemungkinan pulau-pulau akan tenggelam, negara-negara pantai, wilayahnya akan menyusut, kekurangan air bersih dan masih banyak lagi ketidaknyamanan yang dirasakan manusia.
Tema hari lingkungan hidup sedunia 2008 yang ditetapkan oleh UNEP (Badan Lingkungan Hidup Dunia) adalah “Co2 Kick The Habit, Toward a Low Carbon Economy”, disesuaikan dengan kondisi di Indonesia tema itu menjadi “UBAH PERILAKU DAN CEGAH PENCEMARAN LINGKUNGAN”.
Akankah hari lingkungan hidup sedunia ini menggugah manusia menjadi lebih bijak dalam menjaga lingkungannya dari berbagai pencemaran?? Akankah manusia yang hidup hari ini mampu mewariskan kondisi bumi (lingkungan) sama dengan hari ini, lebih baik ataukah lebih buruk??? Mari kita jawab pertanyaan itu dengan aksi nyata dalam kehidupan kita sehari-hari.
Sebuah tantangan menarik bagi Anda dan kita semua, bagaimana membuat lingkungan (bumi) menjadi lebih baik dimasa datang …
Selamat Hari Lingkunga Hidup Sedunia, World Environment Day 2008
Dibawah ini informasi tentang tema Hari Lingkungan Hidup Sedunia yang masih relevan hingga saat ini :
Tema Hari Lingkungan Hidup Sedunia dari tahun ke-tahun
2007 - Melting Ice – a Hot Topic??
2006 - Deserts and Desertification - Don’t Desert Drylands!
2005 - Green Cities – Plan for the Planet!
2004 - Wanted! Seas and Oceans – Dead or Alive?
2003 - Water – Two Billion People are Dying for It!
2002 - Give Earth a Chance
2001 - Connect with the World Wide Web of Life
2000 - The Environment Millennium - Time to Act
1999 - Our Earth - Our Future - Just Save It!
1998 - For Life on Earth - Save Our Seas
1997 - For Life on Earth
1996 - Our Earth, Our Habitat, Our Home
1995 - We the Peoples: United for the Global Environment
1994 - One Earth One Family
1993 - Poverty and the Environment - Breaking the Vicious Circle
1992 - Only One Earth, Care and Share
1991 - Climate Change. Need for Global Partnership
1990 - Children and the Environment
1989 - Global Warming; Global Warning
1988 - When People Put the Environment First, Development Will Last
1987 - Environment and Shelter: More Than A Roof
1986 - A Tree for Peace
1985 - Youth: Population and the Environment
1984 - Desertification
1983 - Managing and Disposing Hazardous Waste: Acid Rain and Energy
1982 - Ten Years After Stockholm (Renewal of Environmental Concerns)
1981 - Ground Water; Toxic Chemicals in Human Food Chains
1980 - A New Challenge for the New Decade: Development Without Destruction
1979 - Only One Future for Our Children - Development Without Destruction
1978 - Development Without Destruction
1977 - Ozone Layer Environmental Concern; Lands Loss and Soil Degradation
1976 - Water: Vital Resource for Life
1975 - Human Settlements
1974 - Only one Earth
Kota-kota yang menjadi tuan rumah peringatan hari lingkungan hidup sedunia
2007 - Tromsø, Norway
2006 - Algiers, Algeria
2005 - San Francisco, U.S.
2004 - Barcelona, Spain
2003 - Beirut, Lebanon
2002 - Shenzhen, People’s Republic of China
2001 - Torino, Italy and Havana, Cuba
2000 - Adelaide, Australia
1999 - Tokyo, Japan
1998 - Moscow, Russian Federation
1997 - Seoul, Republic of Korea
1996 - Istanbul, Turkey
1995 - Pretoria, South Africa
1994 - London, United Kingdom
1993 - Beijing, People’s Republic of China
1992 - Rio de Janeiro, Brazil
1991 - Stockolm, Sweden
1990 - Mexico City, Mexico
1989 - Brussels, Belgium
1988 - Bangkok, Thailand
1987 - Nairobi, Kenya
www.flickr.com
|
try to keep living today, then you'll find what you can do tomorrow